Separuh Kebahagiaan
Plung.
Batu terlempar dari tangan yang
memutih. Dia tertunduk lesu,memeluk lututnya yang beku.
“KENAPA? KENAPA HAL INI SULIT SEKALI
DIJELASKAN, TUHAN? APA PENYEBABNYA? ARRGGHH SHITT!!,” teriak Clarissa diikuti
gemanya yang terdengar sayup . Setetes air matapun mengalir.
***
“darimana
saja kamu?” bentak Riko. Tak ada jawaban dari rissa.
“HEY? DARIMANA?” suaranya mulai
meninggi.
“Tempat biasa ,” jawab rissa
singkat.
“APA? Sudah berapa kali kakak bilang,
jangan kesana lagi!” rissa pergi ke kamarnya tanpa menggubris perkataan Riko.
Mikha dengan wajah cengo, memandang kedua sahabatnya itu yang selalu
bertengkar, “mau sampai kapan mereka seperti itu?” batin Mikha.
****
Esoknya,
diam-diam rissa pergi menuju tempat itu lagi. Saat menuju tempat tersebut,
dilihatnya seorang lelaki yang tengah berdiri di sebuah rumah tua besar. Didekatilah
pria itu dan berdiri disampingnya sambil mengamati apa yang tengah dilihatnya.
“Rumah yang indah bukan?” kata pria
tersebut.
Tak ada jawaban. “Rumah tuabesar kaya gini dibilang bagus?
Rumah tua berhantu itu baru bagus” cetus rissa dalam hati.
“dilihat memang menyeramkan, tapi
sebenarnya ini menyimpan rahasia besar!” jelas lelaki itu,
“rahasia besar?” clarissa penasaran.
“iya, dulunya rumah ini adalah rumah
dimana pembantaian keluarga Ethan David dan hanya aku yang tersisa di keluarga
Ethan ini, sedikit orang yang tau bahwa disinilah TKP yang sesungguhnya,” jelas
lelaki itu.
“kamu anakEthan David? detektif yang
meninggal 7 tahun yang lalu?”
“iya benar, akulah satu-satunya yang
selamat dari pembantaian itu, dan sampai
saat ini mungkin para penjahat itu masih mencariku, karena tak ditemukannya
jasadku di tempat kejadian.”
“oohh,” jawab rissa singkat.
Sebenarnya dia ingin bertanya lebih
banyak, tapi apa daya mungkin itu terlalu privasi untuk ditanyakan. Rissa pergi
menginggalkan lelaki itu tanpa mengetahui siapa nama lelaki itu dan mengapa dia
bisa selamat dari pembantaian keji itu. Berita terkeji yang pernah dia dengar.
***
“Sera, hari ini, ketika perjalanku menemui mu, aku bertemu sesosok pria jakung yang tampan, kalau dilihat-lihat dia
sangat pintar, tapi dia memiliki masalalu yang kelam. Dia ternyata anak dari
detektif Ethan David, idola kita!” Guman clarissa sambil memandang kerumunan kabut di danau itu. Dia
mengeluarkan tabletnya, dan sengaja membiarkan lagu Skyfall milik Adele
melantun lembut menemani kesunyian.
Rissa memang sering datang ke Danau ini untuk mengenang temannya yang
telah meninggal disini setahun yang lalu.
Walaupun ia telah dilarang oleh Riko, sahabatnya sekaligus sudah ia anggap
sebagai kakaknya sendiri. Rissa tau mengapa dia berperilaku seperti itu karena
Riko tidak mau kehilangan sahabatnya untuk yang kedua kalinya.
“Danau yang menakjubkan bukan?” suara itu terdengar sayup memunggungi
Clarissa.
“kurasa tidak, danau Skyfall, danau
indah namun penuh dengan memori yang tak dapat dilupakan. Tempat dimana
seseorang harus pergi untuk meninggalkanku selamanya,” jawab Clarissa.
Pria itu tiba2 saja duduk
disampingnya, saat itu juga Clarissa baru sadar bahwa lelaki ini adalah lelaki
yang ia temui saat menuju danau ini. Tanpa sadar, sebuahjaket Azzurasudah
menyelimuti punggungnya. Tatapannya nanar, degg. Berdetakjantungnya.
“kamu tau kenapa tempat ini dinamakan
lembah Skyfall?” tanya pria itu.
“entahlah, mungkin yang menemukannya
bernama skyfall atau mungkin istrinya yang bernama skyfall” jawab rissa asal.
“hahaha ada-ada saja kauini,” tawa
dan senyumnya membuat Rissa tak bisa berkutik memandang matanya semakin dalam,
“Lembah Skyfall. Dingin, kelam, temaram,hening, manai. Lembah dimana langitpun
terlihat jatuh seperti namanya, skyfall. Langit Jatuh. Danau
dan Lembah Skyfall ini sangat sinkron, mereka ditakdirkan berjodoh,” jelasnya
seraya memandang wajah rissa karena ia merasatalah diperhatikan. Rissa menunduk
malu.
“kamu masih tinggal di sini?” tanya
rissa
“tidak.” jawabnya singkat.Ketika
mendengar lagu skyfall pria itupun mengikuti liriknya, “Let the Skyfall when
itu crumbells, nananana,,,”nyanyinya.
Sedikit fals, entah mengapa itu justru membuat rissa semakin
memandangnya lebih dalam.
“Suka lagu ini? Aku pun juga,” ucap
pria itu.
“loh akukan gak nanya,” weekk ledek
rissa.
Pria itu memutar kedua bola matanya.
Mencari kata-kata agar tak terdengar garing. “Ohh yaa sampai lupa daritadi kita
belum kenalan?Kenalin namaku Akai, panjangnya Akai Ethan,” kenalnya.
Rissa melebarkan matanya, “Akai?
Nama yang aneh, hahaha... Namaku rissa. Clarissa carter.”
“aku sih cuek. hahahahaa....”
***
Setengah jam sudah. Diam. Tak
sekatapun terlontar dari kedua mulut itu.“Aduh mati.. kenapa harus lagu ini,”
sesal rissa dihati. Lantunan Heart Attack milik demi lovato pun menjadi
backsound yang mengalir dikecanggungan. Pandangan mereka jauh menatap biasan
langit jingga membuat danau ini bak lautan emas.
“menakjubkan!” rissa mencoba
mengawali percakapan kembali.
“tak pernah aku melihat Skyfall
seceria ini,” senyum itu mengembang di kedua sudut bibirnya.
“Sekarang kamu tinggal dimana?”
“London. Bersama bibiku, marriana.
Kalau kamu? Sedang iburan?”
“kamu selalu bisa menebakku yaa! Iya
aku liburan semester akhir dan memilih kembali lagi kesini. Aku juga tinggal di
London, tepatnya bakker street.”
“oohhhhhhhhh” kata itu sengaja akai
panjang-panjangkan.
Senja mulai menidur. Clarissa ingat,
Riko pasti mencari dirinya. Sesegera mungkin dia berpamitan kepada Akai dan
bergegas kembali ke vila. Sesampainya di villa, dilihatnya mobil chevrolet
silver keluar dari garasi. Dari spion, riko melihat rissa berdiri mematung di
pagar villa. Mobilpun kembali menuju garasi. Seperti kemarin, Riko menceramahi
Clarissa untuk tak datang ke danau itu lagi. Ini kali, clarissa membela diri.
“Riko, aku bisa menjaga diriku
sendiri, toh aku juga bisa berenang kan kalau tenggelam? Tak perlu khawatir
tentang itu,” ujar Clarissa
“tapi rissa, ini juga untuk
kebaikanmu, kamu tau kan gimana rasanya ketika sera pergi? HANCURR!” gertak
riko
“iya aku juga ngerasain gimana
rasanya ko, berat memang. Tapi apa salahnya kalau hanya sekedar mengunjunginya?”
“terserah kamu sajalah!”
Mendengar kedua sahabatnya itu terus
bertengkar, mikha kini mencoba menenangkan keadaan.
“sudahlah, jangan bertengkar
terterus, kasian sera, dia pasti sedih melihat sahabatnya bertengkar terus
seperti ini,” ujar Mikha. Riko diam.
“yasudahlah, toh ini juga sudah
malam, lebih baik kita tidur sekarang,” saran clarissa.
***
Dear my blog,
Hari ini, cerah. Sumringah. Indah. Sesosok pria, dia pintar menganalisis,
tampan, peka (sedikit sih),dan lumayan
cuek. Liburan kali ini terasa berbeda, aku bertemu pria itu, kita berkenalan,bercerita
sedikit tentang kehidupan kita. Benih? Entahlah..... lalu bagaimana ‘dia’?
Separuh kebahagiaanku, jiwaku, hidupku.....
Tesss. Setitik demi setitik airpun
tak terbendung dari ekor matanya. Yaah setidaknya itulah yang ia tulis di blog
rahasianya. Ditemani lagu half alive dari secondhand serenade jarinya terus
berlarian diatas keyboard. Ia mencoba mempercepat waktu karena matanya sudah
setengah menutup.
Jam tangan ripcurlnya menunjukan
pukul 1, yah memang belum telalu larut baginya. Tapi matanya... menjelma
menjadi mata panda. Dibalik selimut, dia terus memikirkan Akai. Jatuh cinta.
Itulah yang ada dipikirannya malam ini. Tapi baginya, dia sangat mudah suka
terhadap siapapun. Pikirannya terlalu dangkal untuk memikirkan hal labil
seperti itu. Dia termasuk orang awam dalam percintaan. Clarissa memandang
langit, “liburan kali ini, akan menjadi
liburan yang penuh memori. selamat malam, sera,” batin rissa. Terlelaplah dia
dalam mimpi-mimpi fantasinya.
***
“suatu hari, aku akan mengatakannya
rissa, aku akan mengatakan bahwa aku sangat menyukaimu,” suara itu terdengar
lirih disertai decitan gorden yang terhempas oleh angin malam. Pria itu mencium
foto clarissa dan bergegas tidur.
***
Paginya, clarissa terkejut, dilihatnya
seseorang yang sangat mirip dengan Akai tengah duduk di lantai bawah. Ya dia memang
akai. Ia berjalan terseok, tubuhnya masih sulit beradaptasi untuk berdiri.
“selamat pagi, Carter?” salam Akai
sambil mengembangkan senyumnya.
“sampai kapan kamu terus memanggilku
Carter? Maaf kalau mukaku sedikit berantakan,” ucap Clarissa
“aku lebih nyaman seperti itu,
hahaha,,,” tawanya begitu renyah menggema kesetiap sudut villa.
“eehh kalian ternyata sudah saling
kenal, ini aku buatkan roti bakar dan kopi panas untuk kalian,” ujar mikha
sambil membawa makanan dari dapur.
“terimakasih,” ucap Akai
“ngomong-ngomong ada apa kamu
kesini?” tanya Clarissa
“aku diminta Mikha untuk menyelidiki
kembali kasus kematian sahabatmu, sera.”
“kamu detektif? Tapi untuk apa
menyelidiki kasus ini? Bukankah sudah jelas bahwa sera meninggal karena
terpeleset ketika ingin pulang dari danau itu?”
“iya aku detektif, menurut mikha
kasus ini ada yang janggal, jadi dia memintaku untuk menyelidikinya,” jelas Akai,
“Nggg mau tanya, toiletnya dimana yaa?”
“ohh kamu tinggal lewat kamar yang
di pojok itu terus belok kiri, naah situ,” jelas rissa.
Mikha sudah mengenal akai sejak lama
karena mereka satu universitas yaitu oxford. Dugaan Clarissa benar, Akai memang
seorang detektif. Dia sudah banyak memecahkan kasus yang sulit. Setelah mereka
sarapan, mereka pergi ke danau itu. Sulit memang, kasus yang sudah terpendam
selama 1 tahun muncul kembali. Bak luka lama yang baru saja mengering
terkelupas lagi. Pedih rasanya.
***
“disini mayat sera ditemukan,”
tunjuk mikha ke salah satu sudut tepian danau.
“kemana riko?” tanya akai
“dia sedang kembali ke london untuk
tugas kuliahnya.”
“kita butuh dia sekarang!”
“baiklah akan aku telpon dia.”
Setelah menelpon riko, mereka
kembali ke villa dan menunggu kedatangan riko dari london.
***
Sorenya mereka kembali ke danau ini
lagi.
“aku sedikit ragu dengan kasus ini,” ucap akai sambil mengerutkan dahi.
“kenapa? Kamu sudah tau pembunuhnya?
Atau bagaimana?” tanya riko bertubi-tubi.
“Ya, kurasa kamu!” tegas akai
“tapi kenapa bisa aku?” wajah riko
tampak ketakutan
“kamu mencintainya kan?”
“bb..baa.bagaimana kamu tau?” raut
wajahnya semakin tak karuan
“ saat aku pergi ke toliet tadi pagi,
aku melewati kamarmu, dan tak sengaja melihat kamarmu yang berantakan penuh
dengan foto-foto sera, dan difoto itu sera tak pernah melihat ke kamera, kamu
memfotonya secara diam-diam. Berati sudah jelas bahwa kamu jatuh cinta
kepadanyasecara diam-diam,”
“KAMU? KAMU PEMBUNUH! MENGAPA KAMU
LAKUKAN INI SEMUA?” teriak mikha
“aku bukan pembunuh, aku bisa
menjelaskan ini semua,”
“tidak kamu jelas-jelas sudah membunuh
sera!”
“bukan aku bukan pembunuh, itu
kecelakaan!”
“itu memang bukan kecelakaan ataupun
pembunuhan,” ujar akai mencoba melerai keduanya.
“lantas?” tanya clarissa?
“dulu riko pernah menyatakan
cintanya disini, dan sera menolaknya. Hati riko hancur, pastinya sera akan
menjelaskan kenapa dia menolak riko. Sera sudah mencintai pria lain. Mikha. Dia
hidup tanpa cinta, lantas dia pikir lebih baik jika mengakhiri hidupnya dan
sebelum itu dia telah berpamian kepada riko. ”
Deggg.. jleebb.. Bagai dihujam panah
bertubi-tubi. Wanita yang ia cintai selama ini ternyata mencintai sahabatnya
sendiri, mikha. Darah serasa naik dari ujung kaki menuju kepala. Belumlah sampi
ke ujung kepala, tangan kanannya sudah melayang ke pipi kiri mikha. Darah
mengucur dari hidungnya. Mikha sebenarnya juga marah, apadaya dia hanya bisa
pasrah, semua ini salahnya. Dia tau jika sera menyukainya, dan sera juga tau
mikha telah menyukai orang lain. Rissa dan akaipun mencoba menghentikan
pukulan-pukulan yang dilakukan oleh riko kepada mikha.
***
Setahun kemudian.
Tak ada orang. Rumah ini bak tak
berpenghuni, hanya adapak satpam, supir, dan bi inah yang menemani rissa setiap
hari. Orang tua? Mereka sibuk dengan pekerjaanya. Sudah menjadi hal biasa bagi
rissa. Tubuhnya tak berkutik menulis tugas sastra inggisnya yang menumpuk di depan laptop. Bipp... bipp...
tabletnya bergetar tanda sms masuk.
Dari : Akai
Bagaimana harimu? Adakah waktu? Kutunggu kau di tempat dan jam seperti
biasa. Sahabatmu.
Balasan yang berisi meng-iya-kan pun
terkirim. Senyum manisnya mengembang disertai lesung pipitnya. Sesegera ia
mengenakan jaket tebalnya dan mengeluarkan mobil swift merahnya dari garasi. Jalanan
terlihat lenggang dan hanya segelintir mobil yang lalu lalang, malam ini salju
turun cukup lebat. Marriana Cappucino. Diparkirkanlah mobilnya dekat kedai
tersebut.
“hayy carter,” sapa akai hangat
“hay juga, bagaimana kuliah dan
pekerjaanmu?”
“lancar-lancar saja, ohh ya
bagaimana mikha setelah kemarin menembakmu?”
“entahlah, sampai saat ini aku masih
belum berani mengatakan apapun padanya,”
“ini dia, 2 cappucino hangat dengan
taburan choco granule, selamat menikmati,” ucap seorang pelayan dengan ramahnya.
Rissa menyalakan lagu yang ada di
tabletnya, it will rain, lagu favoritnya.
“nanana...nanaa..” suara itu
terdengar lembut mengikuti suara sopran bruno mars.
“bukankah ini salju? Harusnya it
will snow dong!” protes akai
“biarlah, aku lebih suka hujan
daripada salju. Apakah kamu tau kenapa aku sangat suka lagu ini?” wajah rissa
sedikit serius
“entah, apa karena sera?” wajahnya
pun ikut serius menatap mata rissa yang mulai berkaca
“bisa jadi, ada saat orang itu
memiliki titik lemah bukan? Ketika ia sedih, terpuruk, jatuh. Maka kita butuh
seseorang, seseorang yang menjadikan kita merasa lebih baik. Dan aku kehilangan
itu, separuh kebahagiaan ku telah pergi bersama jasadnya ke alam sana, setiap
hari pasti diriku ‘hujan’,” tetes demi tetes mengalir dimata rissa. Akai tak
mampu berkata apa-apa. Rissa menyandarkan kepalanya ke bahu akai.
“tapi kini ada kamu, mikha, dan riko
yang setia menemaniku. Terimakasih,” senyum mulai kembali mengembang di wajah
rissa. Malam pun larut dalam .
***
Biippp....biiipp...biipp....
“iya, halo eta?” tanya rissa kepada
sahabatnya, eta.
“hay rissa, aku ingin curhat sama
kamu nih,”
“tentang apa? Kuliah?”
“ihh kamu mah kuliah mulu yg
dipikirin, kamu kan sahabatnya bantu aku dong,”
“Iyaa terus?”
“eehhhh gajadiiiiii, mamahku minta
dianter ke mall, besok di kampus aja yaa, bye”
Tiittt...
***
Senja kali ini, salju di london
belum juga menipis, tapi syukurlah sekarang lebih membaik. Rissa menatap jauh
ke Sungai Thames betapa indahnya sore ini tanpa adanya salju yang turun.
Hatinya kosong, tatapanpun berubah lamunan. Matahari pergi meninggalkan
guratan-guratan jingga mengudara. Malam pun datang.
Rissa duduk di kursi taman dekatLondon
Eye,seseorang pun mendekatinya.
“carter, malam yang dingin bukan?” tanya
akai sembari memberikan coklat panas ke rissa
“iya memang, kok kamu ada disini?”
“aku dari tadi sore mengikutimu, dan
menunggu waktu yang tepat,”
Menunggu waktu yang tepat? Apa ini
saatnya? Saat dimana hatinya harus hancur?
“kamu mau apa mengikutiku? Menjadi
mata-mata?” jantungnya pun tak henti2nya berdetak.
“emmmm... aku menyukaimu,” kata itu
tiba-tiba terlontar tanpa akai sadari.
Jeeggg. Jederrrr. Seperti disambar
guntur. Hatinya pecah, sakit, hancur. Apa yang harus rissa katakan. Dia glagapan.
“aku masih menyukai difa,” kata-kata
naif itu coba rissa rangkai untuk menutupi semua kehancurannya.
“tapi mengapa? Bukakah kamu sudah
melupakannya?” tatapan akai nanar.
Tangan rissa memeluk cangkirnya
erat-erat. Mencoba menghilangkan sambaran hebat yang mengenai tepat di hatinya.
Keputusannya sudah bulat, ia mengambil nafas dalam-dalam, mencoba menyusun kata
demi kata yang tak bisa ia luapkan ke akai.
“tapi maaf, aku tak bisa.........”
Risaa pergi meninggalkan akai
bersama coklat panas miliknya. Mencoba terlihat tegar, tetap saja matanya tak
bisa membendung semuanya. “kenapa? Kenapa harus aku menerima semua ini tuhan?”
batin rissa. Eta. Dia ternyata telah menyukai akai jauuhh sebelum rissa mengenal
akai.Rissa harus merelakan separuh kebahagiaannya hilang ‘lagi’. Bagaimanapun
ia juga harus rela melihat separuh kebahagiaannya menjadi milik Eta. Rissa
terus berjalan menjauh dari akai. Akai yang tengah duduk terperangah melihat
separuh kebahagiaannya pergi. Hanya punggung rissa yang terlihat mulai jauh.
Menjauh. Dan hilang.
